Kabupaten Sigi, MTM Network – Perjalanan Batik Valiri tidak hanya menghidupkan kembali warisan budaya masyarakat Kaili, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana ekonomi lokal dapat tumbuh berdampingan dengan pelestarian lingkungan. Melalui pendekatan ekonomi restoratif, usaha batik asal Desa Beka, Kabupaten Sigi, kini dikenal hingga mancanegara.
Transformasi Batik Valiri semakin kuat setelah mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi. Selama delapan bulan, usaha tersebut mendapatkan pendampingan mulai dari penguatan kelembagaan, penyusunan standar operasional produksi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga membuka akses pasar dan permodalan.
Program tersebut juga mendorong Batik Valiri beralih menggunakan pewarna alami yang berasal dari Hutan Ranjuri. Perubahan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian ekosistem hutan.
Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning, mengatakan Batik Valiri sebenarnya telah memiliki kekuatan dari sisi sosial dan budaya. Namun, aspek lingkungan perlu diperkuat agar menjadi model usaha yang benar-benar berkelanjutan.
“Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem,” ujar Nedya Sinintha Maulaning.
Melalui berbagai pelatihan, para perajin diperkenalkan pada teknik ekstraksi warna alami, proses penguncian warna menggunakan bahan ramah lingkungan, hingga pentingnya regenerasi tanaman pewarna. Sebagai bentuk komitmen, dilakukan pula penanaman kembali pohon mangga, jati, dan ketapang di kawasan Hutan Ranjuri.
Upaya tersebut memberikan dampak positif terhadap pemasaran Batik Valiri. Produk ini kini rutin menjadi suvenir resmi dalam berbagai kunjungan antardaerah maupun tamu internasional. Sejumlah perwakilan dari Brasil, Amerika Serikat, Jepang, dan negara lainnya telah datang langsung ke Desa Beka untuk mempelajari proses produksi sekaligus membeli produk batik.
Keberhasilan Batik Valiri memperlihatkan bahwa pelestarian hutan, penguatan budaya lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan. Di Kabupaten Sigi yang sekitar 70 persen wilayahnya merupakan kawasan hutan, model usaha seperti ini menjadi contoh bagaimana alam dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. san

