Jakarta, MTMNetwork.id – Perkembangan film horor Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kreativitas dalam menghadirkan ketakutan, tetapi juga menyangkut bagaimana karya tersebut diproduksi dan dipertemukan dengan penonton. Persoalan kreativitas dan bisnis tersebut turut menjadi pembahasan dalam Festival Film Horor (FFHoror) IX.
Festival yang digelar di JTown Food & Entertainment Center, Jatinegara, Jakarta Timur, 28 September 2026, menghadirkan diskusi bertajuk “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia”. Produser sekaligus penulis skenario Budi Sumarno dan sutradara Hasto Broto menjadi pembicara dalam diskusi yang dipandu Didang Prajasasmita.
Hasto Broto menekankan adanya pembagian tanggung jawab antara sutradara dan produser dalam produksi film. Sutradara lebih berfokus pada storytelling dan visual, sedangkan produser memiliki tanggung jawab terhadap strategi bisnis dan pemasaran agar film dapat bertemu dengan penontonnya.
“Siapa pun sutradaranya pasti ingin membuat film yang terbaik. Genre apa pun, eksekusinya harus bagus. Soal komersial, itu tidak bisa dijamin,” ujar Hasto.
Menurut dia, tingginya perhatian terhadap sebuah film di media sosial tidak secara otomatis membuat penonton datang ke bioskop. Karena itu, kualitas karya dan strategi mempertemukan film dengan penonton menjadi persoalan yang berbeda.
Budi Sumarno kemudian menyampaikan pandangan serupa dengan cara yang lebih ringan. Menurutnya, pembuat film perlu diberikan ruang untuk berkonsentrasi pada karya, sementara aspek pemasaran menjadi bagian penting yang perlu dipikirkan produser.
“Biarkan sutradara berkarya menghasilkan film yang bagus. Setelah itu produser yang mengurus bagaimana film tersebut dipasarkan dan bertemu dengan penontonnya,” kata Budi.
Di sisi kreatif, Budi melihat film horor Indonesia memiliki sumber cerita yang luas karena berangkat dari keragaman budaya Nusantara. Mitos, sejarah, tempat keramat, ritual dan kepercayaan lokal dapat menjadi bahan cerita yang kemudian diolah sesuai kebutuhan sinema.
Namun, pengolahan tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai batas antara pelestarian budaya dan perubahan makna. Ketika mitologi lokal dibawa ke layar, cerita dapat semakin dikenal masyarakat, tetapi pada saat bersamaan interpretasi sinematik dapat membuat makna tertentu mengalami perubahan.
Ketua Dewan Juri FFHoror IX, Ncank Mail, mengatakan tidak ada ukuran tunggal yang dapat digunakan untuk menentukan sebuah film sebagai karya yang baik atau buruk. Setiap karya lahir dari proses kreatif dan memiliki pendekatan masing-masing.
Menurut Ncank Mail, perbedaan pandangan antara pembuat film dan penonton merupakan bagian dari dinamika perfilman. Sineas juga tidak memiliki buku petunjuk yang dapat menjamin sebuah karya pasti berhasil.
Dalam konteks horor, persoalan tersebut semakin menarik karena genre ini memiliki kedekatan dengan pengalaman budaya masyarakat. Ketakutan yang ditampilkan di layar dapat bersumber dari cerita rakyat, spiritualitas, kepercayaan maupun persoalan psikologis.
Hasto juga menegaskan bahwa film memiliki wilayah yang luas dan tidak harus berhenti pada satu genre. Film dapat menjadi sarana hiburan sekaligus medium untuk menyampaikan persoalan sosial dan kemanusiaan.
“Film adalah media yang luas. Ia bisa menakutkan, bisa menghibur, tetapi juga bisa menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan,” katanya.
FFHoror IX pada akhirnya menjadi ruang pertemuan antara aspek kreatif, budaya dan industri. Film horor tidak hanya berbicara mengenai bagaimana membuat penonton takut, tetapi juga bagaimana sebuah cerita dibangun, konteks budaya dipahami dan karya tersebut menemukan penontonnya.
Di tengah berkembangnya film horor Indonesia, tantangan bagi sineas bukan hanya menciptakan teror yang efektif. Mereka juga berhadapan dengan pertanyaan mengenai bagaimana mitologi dan realitas sosial diterjemahkan menjadi cerita yang tetap memiliki konteks, menarik bagi penonton dan memiliki nilai sinematik. san

