Kota Tangerang, MTM Network – Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati kawasan Klenteng Koet Goan Bio (Mpeh Peh Cun) di Karawaci, Kota Tangerang, dalam perhelatan Festival Budaya Petjoen 2026. Tradisi tahunan khas masyarakat Cina Benteng tersebut kembali digelar sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya melestarikan warisan budaya yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Festival yang berlangsung meriah itu menjadi magnet bagi masyarakat tidak hanya dari Tangerang, tetapi juga dari Jakarta, Bogor, Cilegon, dan sejumlah daerah lainnya. Salah satu rangkaian acara yang paling ditunggu adalah ritual memandikan perahu keramat yang dipercaya memiliki sejarah panjang terkait kedatangan leluhur Tionghoa melalui Sungai Cisadane.
Wakil Ketua Panitia Festival Budaya Petjoen, Anto Tjiu Abaw, menjelaskan bahwa tradisi tersebut rutin dilaksanakan setiap tanggal lima bulan lima dalam kalender Tionghoa atau dikenal dengan Go Gwe Ce Go. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan kepada Qu Yuan atau Koet Goan yang dikenang oleh masyarakat Tionghoa secara turun-temurun.
“Kami menggelar tradisi Petjoen (Peh Cun) ini setiap tahun tepatnya setiap tanggal lima bulan lima atau Go Gwe Ce Go. Tujuannya untuk mengenang leluhur lewat perahu keramat yang dibuka, dimandikan, dan diberkati setahun sekali,” ujar Anto.
Dalam prosesi sakral tersebut, perahu keramat berusia ratusan tahun dimandikan menggunakan air kembang yang telah didoakan dan diberkati oleh pemuka agama. Momen ini menjadi daya tarik tersendiri karena banyak pengunjung rela mengantre untuk mendapatkan air maupun kain merah yang digunakan dalam ritual tersebut.
Menurut kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun, air dan kain merah dari prosesi tersebut diyakini membawa keberkahan, kesehatan, keselamatan, serta perlindungan bagi mereka yang menerimanya. Tak heran jika ritual ini selalu menjadi pusat perhatian setiap kali Festival Budaya Petjoen digelar.
Anto menuturkan, perahu keramat tersebut bukan hanya benda bersejarah, melainkan simbol perjalanan leluhur masyarakat Tionghoa yang pertama kali datang dan menetap di wilayah Tangerang melalui jalur Sungai Cisadane.
“Perahu keramat ini bukan sekadar benda bersejarah, menurut cerita yang diwariskan turun-temurun perahu keramat ini berasal dari leluhur warga Tionghoa yang datang ke Tangerang melalui Sungai Cisadane. Tidak heran, tradisi ini ditunggu-tunggu kedatangannya baik dari warga sekitar sampai mereka yang berdatangan dari Jakarta, Bogor, Cilegon, dan sebagainya,” jelasnya.
Selain ritual utama, festival juga diramaikan dengan berbagai kegiatan budaya seperti pertunjukan musik gambang kromong, pembagian kue sangjit, serta bazar kuliner yang berlangsung sejak 15 hingga 19 Juni 2026. Kehadiran beragam kegiatan tersebut semakin memperkuat nuansa kebersamaan dan keberagaman yang menjadi ciri khas masyarakat Kota Tangerang.
Anto berharap Festival Budaya Petjoen tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan lintas etnis dan generasi. “Kami ingin tradisi ini milik bersama, semua masyarakat bisa hadir, tidak hanya dari Cina Benteng, menikmati acara sampai merasakan kebersamaan yang ada di sini. Semoga tradisi ini terus lestari khususnya bisa diteruskan oleh generasi-generasi selanjutnya,” pungkasnya. san/foto dok. diskominfo kota tng

