Jakarta, MTMNetwork.id – Galeri Indonesia Kaya (GIK) merayakan ulang tahun ke-13 dengan menggelar kembali program Wayang Jurnalis bersama Wayang Orang Bharata. Pementasan yang berlangsung pada 10 Oktober 2026 tersebut menghadirkan 12 wartawan dalam lakon Petruk Mantu setelah program ini vakum sejak 2020.
Galeri Indonesia Kaya diresmikan pada 10 Oktober 2013 sebagai ruang publik berbasis digital untuk memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Fasilitas yang dihadirkan Bakti Budaya Djarum Foundation ini berlokasi di lantai delapan West Mall Grand Indonesia, Jakarta, dan terbuka untuk masyarakat secara gratis.
Sejak diresmikan, GIK telah mencatat lebih dari satu juta pengunjung serta menyelenggarakan lebih dari 3.000 pertunjukan yang melibatkan lebih dari 2.000 pekerja seni. Berbagai kegiatan yang pernah diselenggarakan mencakup tari, teater, teater musikal, monolog, pertunjukan musik, apresiasi sastra, hingga kunjungan budaya.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan jurnalis mempunyai peran penting dalam menyampaikan informasi mengenai seni dan budaya kepada masyarakat. Melalui Wayang Jurnalis, para wartawan memperoleh kesempatan untuk memahami proses kreatif di balik pertunjukan secara langsung.
“Jika biasanya mereka berada di balik layar untuk meliput dan menceritakan sebuah pertunjukan, kali ini mereka berkesempatan untuk naik ke atas panggung dan menjadi bagian langsung dari proses kreatifnya,” ujar Renitasari dalam keterangan tertulis.
Wayang Jurnalis pertama kali diperkenalkan pada 2014 dan kembali digelar untuk keenam kalinya pada 2026. Dalam edisi kali ini, para jurnalis menjalani latihan bersama seniman Wayang Orang Bharata sebelum tampil di hadapan penonton.
Sutradara pementasan sekaligus perwakilan Wayang Orang Bharata, Teguh “Kenthus” Ampiranto, menekankan pentingnya ruang pertunjukan bagi keberlangsungan kesenian tradisional. Ia juga mengapresiasi kolaborasi dengan para jurnalis karena memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan memperkenalkan seni pewayangan secara lebih dekat.
Selain Wayang Jurnalis, GIK terus menghadirkan program yang menggabungkan kebudayaan dengan pendekatan kreatif dan teknologi. Sejak 1 September 2026, misalnya, GIK menghadirkan Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, sebuah program yang menawarkan delapan pengalaman imersif berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengenalkan sejarah dan budaya Candi Borobudur.
Auditorium Galeri Indonesia Kaya memiliki kapasitas 150 penonton dan menjadi ruang bagi pelaku seni untuk menampilkan karya kepada masyarakat. Selain pementasan langsung, fasilitas tersebut juga mendukung berbagai kegiatan edukasi dan apresiasi budaya.
Melalui Wayang Jurnalis dan program budaya lainnya, Galeri Indonesia Kaya berupaya mempertemukan seniman, media, serta masyarakat. Keterlibatan berbagai kalangan diharapkan membantu menjaga keberlanjutan seni tradisional sekaligus membuka cara baru untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia. san

