Kabupaten Bekasi, MTM Network – Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi terus memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau guna mencegah terjadinya kekeringan dan gagal panen atau puso pada lahan pertanian. Hingga pertengahan Juni 2026, pemerintah daerah memastikan belum ada laporan kerusakan maupun gagal panen di seluruh wilayah sawah Kabupaten Bekasi.
Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, mengatakan berbagai upaya mitigasi telah dilakukan sejak dini untuk menjaga stabilitas produksi pertanian di tengah ancaman musim kemarau yang mulai berlangsung.
“Sampai hari ini belum ada laporan terkait kekeringan ataupun puso di lahan sawah. Namun, kami tetap melakukan berbagai langkah antisipatif agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan,” ujar Dodo, Senin (15/6/2026), di Kompleks Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi juga telah melakukan pemetaan wilayah yang dinilai berpotensi terdampak kekeringan, terutama di Kecamatan Tambelang, Sukatani, Cabangbungin, Sukawangi, dan Sukakarya yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan air irigasi.
Selain pemetaan, pendataan alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya pompa air, turut dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk memastikan ketersediaan sumber air alternatif ketika debit irigasi menurun.
Pemerintah daerah juga memperkuat koordinasi lintas sektor dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, Kementerian Pertanian, Dinas Sumber Daya Air, serta kelompok tani untuk menjaga distribusi air tetap optimal di musim kemarau.
“Koordinasi dilakukan untuk perbaikan saluran irigasi, penguatan tanggul, serta pengaturan distribusi air agar kebutuhan petani tetap terpenuhi selama musim kemarau,” jelas Dodo.
Selain itu, petani juga didorong menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kekurangan air, seperti Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, hingga Inpari 38 Tadah Hujan Agritan yang dinilai lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Dinas Pertanian juga mengatur strategi penyesuaian jadwal tanam agar tidak bertepatan dengan puncak musim kemarau, sekaligus melakukan identifikasi sumber air potensial serta pendataan sumur dan pompa di wilayah rawan.
Upaya lain yang dilakukan mencakup normalisasi saluran irigasi, pembangunan jaringan perpipaan, hingga mobilisasi pompanisasi ke titik-titik yang membutuhkan suplai air tambahan.
Selain aspek teknis, pemerintah juga mendorong petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai perlindungan terhadap risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem dan perubahan iklim.
Dodo berharap seluruh langkah tersebut dapat menjaga produktivitas pertanian tetap stabil, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah potensi tantangan musim kemarau tahun ini. san

